Selasa, 07 April 2009

Pemilu dan Kepemimpinan

HM Teddy Thohir
Pemerhati Sosial Politik Indonesia

Hampir dalam sebulan ini, suasana di sekitar kita hiruk pikuk oleh kegiatan kampanye. Pawai dan konvoi berlangsung di mana-mana. Setiap hari, ruang dan waktu kita diselingi oleh ornamen pemilu berupa pidato, diskusi, debat, baliho, selebaran, spanduk, dan juga iklan di media massa. Hampir pada setiap kerumunan, pembicaraan soal pemilu akan muncul. Riuh sekali.

Pemilihan umum memang sudah di depan mata. Dijadwalkan, pada 9 April 2009, rakyat Indonesia akan melakukan pemungutan suara guna memilih secara langsung pemimpin bangsa yang siap duduk di lembaga legislatif. Setelah itu, beberapa bulan kemudian, rakyat kembali akan memilih presiden dan wakil presiden, juga secara langsung. Ini adalah pemilu kesepuluh kali yang pernah dilangsungkan di Tanah Air sejak 1955.

Para ahli dan analis politik mengatakan, pemilu di Indonesia kali ini merupakan yang paling rumit sedunia. Selain sarat dengan aturan mainnya yang kompleks, pesta demokrasi ini diikuti oleh 34 partai politik ditambah enam partai lokal di Aceh. Rakyat secara serempak harus memilih 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD provinsi ataupun kabupaten/kota).

Ada ribuan calon legislatif terdaftar yang harus dipilih rakyat. Siapa saja mereka? Kebanyakan kita tidak tahu dan tidak kenal.

Berbeda dengan pemilihan caleg, pada pemilu presiden dan wakil presiden, prosesnya boleh dibilang lebih sederhana. Para calon presiden dan wakil presiden nantinya diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu anggota Dewan Perwakilan Rakyat 2009. Banyak yang memperkirakan pemilihan presiden dan wakilnya paling banyak hanya akan diikuti oleh tiga pasangan calon.

Oleh karena itu, saya menilai bahwa memilih presiden dan wakilnya jauh lebih mudah dibandingkan memilih caleg yang jumlahnya ribuan. Kalau tidak cukup jeli dan mengenal para caleg tersebut dengan baik, bukan tidak mungkin rakyat akan memilih wakilnya dengan seadanya saja. Bila terjadi demikian, akibatnya pun bisa fatal bagi kelangsungan kepemimpinan negara.

Padahal, kita seharusnya sadar bahwa setiap suara yang kita berikan dalam pemilu itu adalah amanah. Bila ternyata amanah tersebut salah alamat dan jatuh ke orang yang salah, yang akan mengalami kesulitan dan kesengsaraan adalah kita sebagai rakyat.

Begitu menentukannya suara rakyat bagi masa depan bangsa, seharusnya itu membuat kita bersungguh-sungguh dalam menentukan pilihan. Jika tidak, berarti kita memilih dengan tidak bertanggung jawab. Itu sama artinya kita berkhianat terhadap bangsa dan negara. Oleh sebab itu, marilah kita gali informasi dan perbanyak pengetahuan tentang para calon pemimpin yang ada. Untuk selanjutnya, kita pilih sesuai dengan hati nurani kita.

Kejelian dan ketelitian masyarakat untuk memilih calon pemimpin, baik yang duduk di eksekutif maupun legislatif pada tingkat pusat atau daerah, sangat penting agar tata kelola pemerintahan masa datang dapat berlangsung lebih baik. Jadi, saya sarankan, jangan memilih calon yang bermasalah, baik secara pidana maupun moralnya. Juga, jangan pilih pemimpin yang individualis dan materialistis, melainkan usahakan pilih calon yang idealis dan nasionalis.

Kemampuan masyarakat memilih caleg yang tepat akan menciptakan parlemen yang mampu bekerja secara profesional dan berkualitas dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja pemerintah. Dan, parlemen yang bersih tentu saja akan menciptakan pemerintahan yang bersih pula.

Untuk itu, masyarakat harus diberi pembelajaran, bagaimana memilih pemimpin yang tidak bermasalah itu. Peran Lembaga Swadaya Masyarakat dan media massa cetak, elektronik, atau online sangat penting dalam hal ini. Masyarakat diajak agar peduli dan setidaknya mengetahui riwayat dan perjalanan karier para calon pemimpin tersebut.

Dalam konteks Indonesia sekarang, kita mencari pemimpin yang cinta kepada bangsa dan negara, berakhlak mulia, amanah, beriman, dan bertakwa. Orangnya juga harus cakap, berpengalaman, memiliki pengetahuan dan intelektualitas memadai untuk menjadi pemimpin bangsa, berintegritas tinggi, serta mempunyai visi yang jujur. Jika tidak demikian, sebaiknya dia tahu diri dan tidak usah mencalonkan diri. Jangan sampai ada orang yang mencoba menjadi pemimpin secara dadakan atau instan dengan memanfaatkan kesempatan karena partai politiknya miskin kader dan modal.

Namun, bila kita lihat realitasnya sekarang, dalam daftar caleg muncul beragam calon pemimpin yang kita tidak pernah tahu siapa mereka dan bagaimana jejak rekam riwayat kepemimpinannya. Banyak di antara mereka yang tampaknya hanya mengikuti tren untuk mencoba mengisi jabatan politik. Kita tidak pernah mendengar apa misi dan visi politiknya untuk membangun bangsa. Apakah mereka akan menjadi pemimpin atau penguasa? Atau, seperti yang sudah-sudah, umumnya kepentingan pribadi dan golongannya adalah prioritas mereka.

Oleh sebab itu, kembali saya mengingatkan agar masyarakat berusaha mencermati riwayat dan jejak karier para calon pemimpin tersebut. Lebih baik lagi bila bisa mengetahui kehidupan keluarganya. Sebab, keluarga dapat menggambarkan potret sejati pribadi sang calon pemimpin. Sukseskah dia memimpin keluarganya atau apakah dia datang dari keluarga baik-baik?
Pengalaman hidup yang panjang meyakinkan saya bahwa harapan untuk memperoleh pemimpin yang berkualitas dan teladan bisa dimulai dari lingkungan yang terkecil, yaitu keluarga. Melalui keluarga, sifat kepemimpinan dan keteladanan dapat dipupuk sejak dini. Apalagi bila keluarga tersebut berkualitas.

Keluarga yang berkualitas akan melahirkan anak-anak yang bermutu dan tangguh. Dalam Islam, hal ini selalu didengungkan bahwa untuk menciptakan keluarga yang berkualitas lahir dan batin perlu dibangun sistem secara sakinah.

Keluarga sakinah adalah keluarga yang diliputi ketenangan dan keharmonisan. Dalam keluarga sakinah, terdapat nilai-nilai cinta, kasih sayang, tanggung jawab, kehangatan, kebersamaan, saling menghormati, komitmen, dan komunikasi yang baik. Nilai-nilai itu akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga sehingga pada akhirnya keluarga akan menjadi tempat terbaik bagi anak-anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Membangun keluarga sakinah tentu tidak mudah dan hanya dapat dilakukan secara bersama-sama. Tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak, misalnya ayah. Seluruh komponen keluarga harus terlibat. Membangun keluarga sakinah juga memerlukan proses panjang melalui pengalaman-pengalaman setiap anggota keluarga. Pengalaman itulah yang kemudian akan memberi ruang bagi proses pembelajaran guna membentuk suasana kebersamaan, keseimbagan, dan kesepahaman bagi suami-istri atau anak-orang tua.

Bagaimana caranya membangun keluarga sakinah? Banyak literatur atau nasihat para ulama yang bisa kita baca atau dengar sebagai tuntunan. Umumnya, ada tiga syarat utama untuk membentuk keluarga sakinah. Pertama, secara bersama-sama menjalin hubungan vertikal dengan Allah SWT dengan sungguh-sungguh. Artinya suami, istri, dan anak menjadikan ibadah dan cinta kepada Allah sebagai titik sentral kehidupan mereka.

Kedua, selalu menciptakan hubungan horizontal antarseluruh anggota keluarga secara adil, jujur, dan penuh kasih sayang. Ketiga, seluruh komponen keluarga dilatih untuk bekerja keras. Semua harus menyadari bahwa setiap apa yang diinginkan selalu harus diperjuangkan untuk mendapatkannya, tidak instan. Oleh karena itu, agama sangat menganjurkan kita untuk bekerja keras penuh semangat, termasuk dalam beribadah.

Apabila keluarga seperti itu terwujud, insya Allah kita akan dapat meraih kesuksesan dan kebahagiaan secara spiritual, intelektual, finansial (rezeki), moral, ideologi, dan juga seksual. Sungguh, sebuah keluarga indah yang secara lengkap itu disebut sebagai keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.

Keadaan tersebut harus terus dibina dan dijaga. Sebab, bila diabaikan, bisa melunturkan semangat kesakinahannya. Misalnya, dengan melakukan hal-hal kecil, seperti shalat berjamaah, saling mendoakan, jalan atau makan bersama, ngobrol, atau berkumpul setiap minggu dengan anak, cucu, menantu, dan sebagainya. Hal ini akan menambah eratnya ikatan batin antara suami, istri, anak, mantu, cucu, dan komponen keluarga lainnya.

Saya percaya, pemimpin yang baik dan berkualitas akan lahir dari keluarga semacam itu. Yaitu, pemimpin yang memiliki visi ke depan yang jelas, merakyat, memiliki kepribadian kuat, selalu bersikap idealis, bermartabat, merakyat, percaya diri, memiliki rasa tanggung jawab, peduli pada nasib orang lain, dan selalu mendahulukan kepentingan umum.

Oleh karena itu, saya ingin mengulang kembali imbauan saya agar para pemilih mencermati siapa yang akan dipilih. Perhatikan riwayat keluarga dan jejak rekam kegiatannya selama ini. Bila dia kotor atau tidak jelas riwayatnya, singkirkan dari daftar pilihan Anda.

Kepada para caleg, saya berharap agar mereka maju sebagai calon. Mudah-mudahan dengan cita-cita menjadi pemimpin, bukan penguasa. Sebab, penguasa itu berkarakter mengendalikan, sedangkan pemimpin memberikan inspirasi. Di samping itu, seorang pemimpin bertindak berdasarkan kebijakan, sedangkan penguasa berlandaskan kekuasaan dan penindasan.

Para caleg juga harus membuktikan bahwa mereka maju dengan dasar orientasi ingin berjuang dan membaktikan diri bagi kepentingan kemajuan bangsa dan negara. Jadi, bila mereka tidak siap untuk serius memperjuangkan kepentingan rakyat dan berani berpolitik secara bersih, lebih baik mundur atau tidak usah mencalonkan diri menjadi pemimpin bangsa.

Harus juga diingat bahwa pemilu adalah manifestasi dari demokrasi dan bukan sekadar soal menang atau kalah. Tujuan akhirnya adalah terbentuknya parlemen dan pemerintahan baru yang mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Itulah esensi demokrasi: terciptanya keadilan dan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, mari kita lanksanakan pemilu dengan jujur, adil, dan damai.

(-)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar